MAGELANG – kabarwisata.com Ketupat atau kupat tahu sudah banyak dikenal masyarakat sebagai kuliner khas Kota ataupun Kabupaten Magelang. Makanan yang terdiri dari ketupat, tahu, tauge, kubis, dengan siraman kuah hitam yang manis itu banyak dijumpai di setiap sudut kota.

Dari warga biasa sampai presiden pun pernah mencoba kuliner satu ini. Namun, dari mana asal ketupat atau kupat dalam kuliner khas tersebut, tak banyak yang tahu.

Ternyata ada satu pembuat ketupat yang masih eksis di Kecamatan Mungkid, KabupatenMagelang. Ia adalah Sri Karyati (43), warga Dusun Bangsan, Desa Senden, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang. Kupat buatannya banyak dipakai di rumah-rumah makan kupat tahu yang ada di Magelang.

Seperti Kupat tahu Nunut, Kupat Tahu Pak Dompleng di Blabak, Kupat Tahu Bu Asih, sampai Kupat Tahu Pelopor.

Sri membuat kupat sejak tahun 1995 silam, 25 tahun hingga saat ini. Usaha kupatnya diwariskan secara turun temurun sejak neneknya dahulu. Ia adalah generasi ketiga setelah nenek dan ibunya, Paini (70). Dari empat saudaranya, tiga orang termasuk dirinya yang membuat usaha pembuatan kupat.

“Sejak tahun 1995, saya memulai usaha kupat ini. Generasi ketiga, setelah ibu, dan nenek saya. Saya empat bersaudara, dan saya anak ketiga. Semua lelaki kecuali saya, membuat usaha kupat, kecuali yang nomor dua yang sekarang bekerja di luar kota,” tutur Sri saat ditemui di kediamannya

Setiap hari, Sri dibantu dengan suami dan saudaranya membuat kupat. Mulai pukul 20.00 WIB malam, bahan dan peralatan di dapur sudah lengkap, ia pun mulai memasak. Beras dimasukkan ke dalam wadah ketupat yang terbuat dari janur, hingga hampir penuh. Ketupat berisi beras itu dimasukkan ke dalam panci sarang atau soblok.  Ketupat dimasak semalam.

Biasanya selepas subuh, ketupat sudah matang. Semula ia menggunakan kayu sebagai bahan bakar, tetapi ternyata api yang dihasilkan kadang mati, sehingga ia beralih menggunakan gas. Satu tabung gas habis untuk memasak satu panci soblok ketupat dalam semalam.

“Cara membuatnya mudah saja. Ketupat diisi beras, ditanak di dalam panci besar atau soblok. Ketupat diisi hampir penuh. Ketupat dimasak semalam dari pukul 20.00 WIB, sampai setelah subuh. Ketupat yang sudah matang, diangkat, diikat sebanyak 10 buah, dipindah dan digantungkan,” katanya.

Sehari, Sri menghabiskan 30 kilogram beras. Beras itu bisa dibikin ketupat sebanyak 600 buah. Saat musim kemarau lebih banyak, 50 kilogram beras untuk 1.000 buah ketupat. Saat musim lebaran atau liburan hari raya, ia bahkan menghabiskan 100 kilogram beras untuk 2.000 buah ketupat.

“Kalau musim hujan, biasanya permintaan turun, tapi kalau liburan hari raya, itu saya bisa bikin lebih 100 kilogram untuk 2.000 buah ketupat. Harga ketupat Rp 12 ribu per ikat untuk ukuran besar dan Rp 10ribu per ikat untuk ukuran kecil,” katanya.

Wadah ketupatnya sendiri dibikin oleh saudara-saudara Sri yang juga tinggal di sekitar rumah. Satu ikat besar janur kelapa dibelinya dari tukang potong kayu pohon seharga Rp 50ribu per ikat. Janur itu dibikin menjadi wadah oleh saudara-saudara dari Sri, maupun dirinya sendiri. Seikat besar janur kelapa untuk sehari. Pembeli ketupat Sri datang dari banyak tempat. Kebanyakan telah berlangganan sebelumnya. Mereka datang dari Borobudur, Secang, Muntilan, Sleman, membawa pesanan ketupat. Dari rumah makanKupat Tahu di Magelang juga banyak.

Mulai dari Kupat tahu Nunut, Kupat Tahu Pak Dompleng di Blabak, Kupat Tahu Bu Asih, sampai Kupat Tahu Pelopor.

“Ketupat ada yang dibawa dan dijual ke Pasar Blabak, Magelang. Pukul 06.00 WIB pagi sudah di pasar. Dari pagi juga sudah ada yang mengambil. Mereka kebanyakan langganan dari Borobudur, Pucang Secang, Muntilan, Mlati Sleman. Pembeli dari rumah makan kupat tahu juga banyak,” tuturnya.

Kupat buatan Sri sendiri masih alami, tanpa bahan-bahan lain, tanpa pemutih atau bahan tambahan lain. Meski tanpa bahan tambahan, tekstur kupat buatannya tetaplah kenyal. Warna kupat pun bersih. Kupat dapat bertahan sehari dan tiga hari jika dimasukkan ke dalam kulkas.

“Saya gak mau pakai bahan-bahan tambahan. Saya bikin dari dulu ya hanya begitu saja, tanpa pemutih. Semua bahan alami dan tanpa pengawet.” katanya.

Ibu yang memiliki dua putri ini mengaku masih akan terus membuat ketupat. Tidak tahu sampai kapan, selama kupat  masih diminati. Tak ada penerus maupun ada penerus, Sri masih akan membuat makanan tersebut.

“Tidak tahu sampai kapan, selama masih kuat lah. Selama masih diminati kupat. Belum tahu, akan ada penerusnya atau tidak, tapi saya tetap akan membuat ketupat,” pungkas Sri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here