??

KLATEN – kabarwisata.com Berburu benih di sentra pembibitan sayuran Klaten terasa menyenangkan lebih-lebih saat pandemi Covid-19. Apalagi kini, model bertani memanfaatkan lahan sempit di rumah tengah menjadi tren. Kegiatan ini selain menjadi hiburan sekaligus sebagai sumber pangan keluarga.

Di tengah pandemi Covid-19, Muh. Rofik Aulawi, 26, mengaku banyak berdiam diri di rumahnya di Pepe, Kecamatan Ngawen, Klaten. Sehari-hari, dirinya bekerja di Madrasah Ibtidaiyah(MI) di kawasan Ponpes An-Nur Bantul, Jogja.

Lama telah berdiam diri di rumahnya, Rofik, memutuskan keluar rumah mencari hawa segar bersama salah seorang kawannya. Perjalanan Rofik dan Aan terhenti sejenak di sentra pembibitan sayuran di Jl. Jatinom-Tulung, Klaten, tepatnya di Majegan, Kecamatan Tulung.

Di sentra pembibitan sayuran milik Sri Winarni itu, Rofik seolah memiliki wahana bermain yang mengasyikkan. Di hadapan Rofik terdapat aneka bibit sayuran, mulai dari bibit cabai, tomat, kol, terong, bayam, kangkung, brokoli, seledri, dan lainnya.

Sambil membawa nampan plastik, Rofik berkeliling di sentra pembibitan sayuran Mitra Tani Majegan itu. Sinar matahari tak begitu menyengat karena di lokasi seluas 1.000 meter persegi tersebut telah dipasangi paranet.

“Bu, bibit loncangnya ada enggak? Saya tadi habis mengambil bibit sawi. Kalau ada bibit loncang, tolong saya dipilihkan yang bagus ya bu,” pinta Rofik kepada salah seorang penjaga di sentra pembibitan sayuran di Majegan, Tulung, Klaten.

Rofik mengaku sangat senang menghabiskan waktunya memilih bibit sayuran di Majegan, Tulung. Sesuai rencana, bibit sayuran yang dia beli akan ditanam di polybag di rumahnya. Berbekal memanfaatkan lahan sempit di lantai II rumahnya, Rofik ingin terus menanam di tengah pandemi Covid-19.

Mirip Swalayan

“Terus terang, saya suka lihat yang hijau-hijau seperti ini. Saat ini, saya masih di rumah. Sementara ini, work from home (WFH) juga. Di tengah pandemi Covid-19, harus mengonsumsi sayuran juga. Jika memiliki tanaman sayuran, rasanya lebih puas. Ini juga dapat mengedukasi yang lainnya tentang pentingnya memanfaatkan lahan sempit atau pun barang bekas dijadikan sebagai pot tanaman. Lebih hemat dan lebih aman juga,” katanya.

Pemilik sentra pembibitan sayuran Mitra Tani Majegan, Sri Winarni, 60, mengatakan, beberapa pembeli bibit tanaman miliknya terkadang berasal dari ibu-ibu dan beberapa warga yang ingin memanfaatkan lahan sempit di rumahnya. Di tengah pandemi Covid-19 ini, jumlah pembeli tiap hari berkisar 15 orang. Omzet yang diperoleh atas usahanya itu bisa senilai Rp100.000 hingga Rp1 juta per hari.

“Suasana di sini mirip di swalayan. Pembeli bebas berkeliling memilih bibit yang disuka. Setelah diambil tinggal diitung hargnya. Rata-rata, harga per bibit sayuran di sini senilai Rp200-Rp500. Selain melayani pembeli partai kecil, saya juga melayani pembeli dari petani skala besar,” katanya.

Sri Winarni mengatakan sentra pembibitan sayuran sudah dilakoni sejak lima tahun terakhir di Klaten. Biasanya, usaha pembibitannya diserbu pengunjung saat di awal musim hujan. Di tengah pandemi Covid-19, tingkat penjualan bibit sayuran tidak mengalami perubahan dibandingkan sebelum pandemi Covid-19 berlangsung.

“Pemasaran bibit ini sampai ke Klaten dan sekitarnya. Termasuk dari Boyolali juga ada. Tempat ini dibuka mulai pukul 07.30 WIB-16.00 WIB. Beberapa waktu lalu, juga ada rombongan ibu-ibu dari Sukoharjo yang membeli bibit sayuran. Kami persilakan yang berminat menanam sayur datang ke sini. Sambil berjemur memiilih bibit sayuran [di tengah pandemi Covid-19]. Kami pun juga melayani pembelian dengan sistem antar,” katanya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here