Dibuat Tematik Sejarah Kota Perdagangan Gula Dunia

SEMARANG, kabarwisata.com – Kota Lama Semarang rupanya memiliki sejarah panjang perjalananya. Gedung-gedung tua yang ada memiliki sejarah tersendiri dalam keberadaannya, salah satu sejarah yang tertoreh yakni pernah menjadi pusat perdagangan gula terbesar di dunia.

Ketua Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L), Hevearita Gunaryanti Rahayu menjelaskan, jika Kota Lama tak hanya sebagai destinasi wisata saja, lebih dari itu sebuah tematik sejarah akan dilekatkan guna semakin menarik wisatawan. Hal ini juga sejalan dengan kriteria yang dikehandaki oleh UNESCO sebagai prasyarat dokumen dosier tentative list Word Heritage yang akan diumumkan pada 2019 mendatang.

“UNESCO rupanya meminta tak hanya sebagai tempat wisata saja, harus merujuk pada tematik, jadi ada jejak sejarah dahulu dan kedepan akan diapakan. Kita akan mengangkat sebagai Kota Perdagangan Gula Dunia,” katanya

Dikatakan Ita, sapaan akrabnya, jika Kota Lama Semarang memiliki sejarah sebagai kota perdagangan gula terbesar, saat itu Raja Gula Oie Tiong Ham memusatkan kantor dagangnya ada di Kota Lama.

“Gedung itu masih ada yakni sekarang yang jadi kantor PT Rajawali Nusindo dan Gedung Samudra Indonesia, ini sebagai awal tematiknya,” katanya.

Untuk data pendukungnya, pihaknya akan meminta pemerintah Kerajaan Belanda untuk bisa memberikan dokumen terkait gedung-gedung yang ada di Kota Lama. Dalam kurun waktu yang masih panjang satu persatu jejak sejarah gedung tua akan didatanya.

“Sebagian ada di Belanda, kita akan mencari, dulu itu seperti apa Kota Lama, UNESCO meminta bagaimana awalnya sejarah Kota Lama, baru kedepannya kita mau apakan, jadi tak hanya kedepan saja juga masa lalunya kita bisa menceritakan,” paparnya.

Kota Lama Semarang disampaikannya memiliki peluang yang besar, karena hanya satu-satunya yang menjadi wakil Indonesia dalam pengajuan dosier dokumen di UNESCO. Apalagi, setelah Sawah Lunto dan Kota Tua Jakarta yang kini dicoret dari tentative list Word Heritage UNESCO lantaran kekurangan dokumen pendukung.

“Kita akan lengkapi, dan menyerahkannya pada 2018, setelah itu kita menunggu pengumuman tentative list pada Februari 2019, dan pengumuman akan kita terima pada 2020,” ujarnya.

Pihaknya juga akan melakukan studi banding ke Kota Tua Malaka, lantaran sudah lebih dulu disematkan sebagai warisan budaya dunia.

“Kita harus mengawali dulu apa saja yang harus diperlukan oleh UNESCO, di Malaka saja prosesnya lama hampir sampai lima kali ditolak dokumen dosiernya. Kita mengantisipasi agar tidak terjadi penolakan dosier Kota Lama oleh UNESCO,” tukasnya. (aaw)

LEAVE A REPLY