SEMARANG, kabarwisata.com – Ada yang unik saat menjelang berbuka puasa di Masjid Jami Pekojan Semarang. Warga sekitar rela antri untuk mendapat jatah bubur India. Bubur yang melegenda selama bulan Ramadhan ini juga sebagai menu khas dari Masjid saat berbuka puasa bagi jamaah yang datang ke masjid.

Bubur India diambil dari nama asal pedagang Koja dan Gujarat yang berdagang di Semarang sejak tahun 1900 an. Terbuat dari beras dengan bumbu rempah seperti jahe, salam, kapulaga, sereh, manisan, cengkeh dan bumbu lainnya dan diaduk jadi satu.

“Kaya akan rasa sehingga tak usah dicampur dengan lauk sudah enak, apalagi kita tambahkan gulai khusus sebagai kuah bubur India, sehingga warna jadi kuning buburnya,” kata Anas Salim Harun, sesepuh Masjid Jami Pekojan Semarang.

Dia menceritakan, awalnya di masjid Pekojan hanya berbuka puasa seadanya berupa air putih dan bubur biasa. Lantas para pedagang Gujarat merasa terpanggil untuk menyempurnakan hidangan berbuka puasa di masjid.

“Para pedagang menawarkan menu bubur spesial, warga menerima dan senang karena rasa lebih enak. Saat itu para pedagang Koja dan Gujarat selalu memberikan hidangan bubur ini dengan sumbangan patungan,” terangnya.

Kebiasaan itu sampai saat ini terjaga, beberapa saudagar keturunan Arab, Koja, dan India (Gujarat) yang menikah dengan warga lokal, yang biasa terlihat berjualan sarung, kacamata, jam, peci di Pekojan selalu menshodaqohkan harta untuk membuat bubur India tiap Ramdhan sebagai menu berbuka puasa.

“Sekarang lebih komplit ada susu, kurma, buah dan air zam-zam, tiap sore kita bagi-bagi warga sekitar antara 50-100 porsi bubur. Untuk jamaah buka puasa kita sediakan 200 porsi bubur India,” ujarnya.

Setiap hari, bersama takmir masjid memasak sejak siang pukul 13.00, membutuhkan 20kg beras dan 20 kelapa, bumbu rempah dan dimasak dalam kuali ukuran besar. Tukang masaknya pun khusu secara turun temurun dari yang mewarisi orang Koja. Bubur akan siap dibagi pukul 15.00-16.00 untuk warga sekitar di belakang masjid.

“Tradisi ini sebagai rasa kebersamaan, antara pendatang dengan warga lokal, tapi sekarang sudah menjadi kebiasaan dengan berbagi untuk semua yang membutuhkan,” katanya.

Bubur pun disajikan dengan mangkuk plastik yang telah ditata rapi saling berhadapan, berada di serambi masjid sebelah kanan ruang shalat utama. Dilengkapi dengan menu lainnya seperti kurma, susu, air zam-zam dan buah semangka.

“Kita berkumpul, berdoa dan menikmati bersama hidangan berbuka puasa ini. Tradisi ini hanya ada di bulan Ramadhan saja, siapa saja silahkan datang ke masjid untuk bersama-sama berbuka puasa dengan bubur India,” katanya. (aaw)

LEAVE A REPLY