KABUPATEN PEMALANG DESA PEDURUNGAN kabarwisata.com, Salah satu  masalah terbesar yang ditemukan di Desa Pedurungan adalah masih banyaknya sampah yang mengganggu dan mencemari lingkungan sekitar, pembuangan sampah sembarangan dan belum maksimalnya pengelolaan sampah terutama sampah yang bersifat anorganik yang susah diuraikan oleh mikroorganisme.

Sampah yang dikumpulkan oleh masyarakat sebagian besar dibakar, ditimbun dan dibiarkan begitu saja. Dampak ketika plastik dibuang, dibakar atau ditimbun akan meracuni bumi, udara dan air. Bersama dengan ibu PKK di Desa Pedurungan  membangun kawasan hijau yang akan menyuburkan lingkungan dan masyarakat. Ketika didaur ulang, plastik turun ke tingkat atau jenis yang lebih rendah. Semakin rendah jenisnya, semakin tidak berharga.

Semakin berkurang nilainya, semakin susah untuk didaur ulang lagi. Pada kenyataannya, botol akan didaur ulang menjadi jenis plastik yang tidak lagi bisa didaur ulang. Ketika dibakar, plastik mengeluarkan molekul dioxin beracun yang akan dibawa oleh angin dan hujan dan kembali turun ke kebun, sawah, hutan, dan sungai. Sinar UV dari matahari menyebabkan plastik rapuh menjadi plastik berukuran kecil-kecil dan menyebarkan molekul beracun di lingkungan sekitar kita.

Molekul plastik tidak cocok dengan tubuh manusia karena membentuk molekul – molekul dan memperbanyak estrogen yang dapat menyebabkan kelainan bayi, kangker, dan pelemahan tubuh-sel, organ, tulang, dll. Molekul -molekul tersebut dapat berlipat ganda di dalam tubuh dan diturunkan oleh ibu hamil ke bayi-bayinya

Pengelolaan sampah anorganik dilakukan dengan salah satu caranya adalah pembuatan ecobrick. Ecobrick adalah bata bangunan yang dapat dipakai lagi dan lagi.embuat ecobrick cukup mudah. Tetapi harus mulai dengan benar. Ini adalah cara hidup dan kebiasaaan jangka panjang. Program terkait pengelolaan sampah dengan pembuatan ecobrick di desa pedurungan berlangsung selama 5 hari dengan pemberian penyuluhan di Pedurungan Barat selama 1 hari dan simulasi pembuatan ecobrick dilakukan selama 1 hari, penyuluhan di desa pedurungan timur selama 2 hari serta simulasi pembuatan ecobrick dilakukan 1 hari.

Simulasi pembuatan ecobrick di Desa Pedurungan dilakukan dengan membentuk gugusan modular yang bisa menjadi dingklik, kursi, meja, panggung, bangku, dan lain-lain. Ecobrick juga bisa dipakai untuk bangunan luar yaitu dalam bangunan tanah. Penggunaan ecobrick terbaik adalah untuk membangun ruang hijau untuk komunitas. Menggunakan bahan material lokal (tanah lempung, pasir, jerami), komunitas bisa membangun area hijau yang cantik yang memperkaya lingkungan Produk hasil simulasi yang dibuat di desa Pedurungan adalah pembuatan module dengan bentuk meja dan kursi.

Langkah yang dilakukan dalam pembuatan ecobrick di desa Pedurungan adalah dengan

  1. Mengumpulkan, memisahkan, membersihkan, menyiapkan segala jenis plastik untuk membuat ecobrick. Hanya plastic yang kering dan bersih yang akan digunakan.
  2. Memilih merk dan ukuran botol yang sama dengan menyesuaikan botol yang paling banyak di temuakn di desa pedurungan yaitu dengan menggunakan botol 600 ml. Ecobrick dalam botol yang sama sebangun mempermudah dan memperindah hasil.
  3. Menggunakan tongkat kayu untuk memadatkan, menghindari besi, kaca, yang akan merusak botol serta menghindari kertas dan sisa makanan yang akan terurai.
  4. Memasukkan plastik lembut yang berwarna untuk dasar botol untuk membuat konstruksi bangunan ecobrick menjadi berwarna.

Untuk memastikan kualitas ecobrick dipastikan dengan melakukan pimbangan terhadap berat ecobrick. Ecobrick dapat disusun menjadi module, untuk kebun, juga beberapa konstruksi bangunan. Salah satu link atau internet yang dapat digunakan pada komunitas pembuatan ecobrick adalah dengan memasuki link GoBrik. GoBrik adalah alat yang sangat bermanfaat untuk mendata dan menghubungkan ecobrick, untuk melihat perkembangan ecobrick sendiri dan komunitas. (ovi septi anggraeni)

LEAVE A REPLY